Golgota

Pada masa-masa saya bersekolah minggu, cerita Firman Tuhan yang membuat saya merasakan keadaan yang mencekam dan mengerikan adalah cerita tentang kesengsaraan yang dialami Yesus Kristus. Cerita tentang penderitaan Kristus diatas kayu salib ini menimbulkan kepiluan yang begitu mendalam. Hal ini membawa saya masuk dalam suatu pertanyaan: mengapa Ia yang berkuasa tidak bertindak untuk menyelamatkan diri Nya? Mengapa Ia tidak membiarkan kemahakuasaan Nya untuk membungkam setiap mulut yang menghina dan mencemooh Dia ? Ia malah bersedia menanggung semua penderitaan itu. di golgota,diatas salib Ia berkata “sudah selasai”

Namun pertanyaan pertanyaan diatas membawa saya pada suatu perenungan dan penghayatan tentang penderitaan Kristus. Dengan berjalannya waktu, saya semakin memahami bahwa Penderitaan yang dialami Kristus bukan saja penderitaan badani tetapi Kristus juga mengalami penderitaan batin. Eben Nuban Timo menyatakan bahwa” penderitaan Kristus bukan hanya penderitaan psikis tetapi juga penderitaan fisik,bukan saja penderitaan jiwa tetapi juga penderitaan tubuh”. Tubuh Kristus dipenuhi dengan luka yang terus berlumuran darah karena cambukan dan mahkota duri yang ada dikepala Nya. Namun disaat yang bersamaan Kristus mengalami duka yang begitu dalam karena Ia dihina, kasih-Nya diremehkan dan dibalas dengan kebencian.

Tibalah di golgota sebagai tempat penyaliban. Diatas kayu salib Kristus tergantung, paku-paku mulai menembus tangan dan kaki-Nya. Pada umumnya golgota adalah tempat untuk pelaksanaan hukuman mati bagi orang-orang hukuman. Tetapi peristiwa penyaliban Yesus Kristus ditempat ini memberi makna yang baru bahwa Golgota adalah tempat bertemunya masa lampau dan masa yang akan datang. Stalker berkata bahwa sejarah kuno bermuara di golgota, dan dari golgota mulai mengalir sejarah modern. Mata para leluhur dan nabi-nabi tertuju ke golgota, dan pada masa sekarang semua umat manusia di segala bangsa dan segala generasi menoleh ke golgota. Di bukit tengkorak ini tugas yang diemban telah selesai. Semua yang diberitakan para nabi-nabi di dalam Perjanjian Lama telah digenapi dan pintu keselamatan terbuka bagi sekalian orang di segala zaman.

Dari golgota inilah Kristus tidak hanya menjalankan tugasnya sebagai imam yang mempersembahkan korban perdamaian tetapi menjadikan diri Nya sebagai korban perdamaian. Korban perdamaian bukan lagi binatang melainkan diri Nya sendiri sebagai korban itu.

Oleh karena itu, satu hal yang sangat mulia yang membuat Dia tidak bertindak untuk menyelamatkan diri Nya ketika disiksa, dihina, dicemooh bahkan tetap tergantung di salib sampai tuntas tugas-Nya bukan karena paku-paku yang telah menembus tangan Nya. Melainkan karena tali kasih untuk menyelamatkan umat manusia, dan karena kasih itulah kita dapat memperoleh hidup yang kekal.

Salatiga 22/03/2020
Soli deo gloria
Aryandi Bako,S.Th

Leave a comment