Putri-Putri Yerusalem

Perasaan perempuan memang sulit ditebak dan menyimpan sejuta makna. Seringkali orang berkata perempuan cenderung menggunakan hati sedangkan pria menggunakan otak. Bahkan kalimat yang sering dipakai dalam perdebatan/perselisihan seorang pria dan wanita adalah “laki-Laki tidak ada perasaan, laki-laki tidak bisa mengerti dengan perasaan wanita”. jadi sepertinya sifat halus, lembut, dan indah sudah terkandung dalam diri kaum perempuan. Walaupun ada juga yang galakkkkk.

Dalam kisah hidup Tuhan Yesus dikitab injil sinoptik, sepertinya saya tidak menemukan satu contoh tentang perempuan yang memusuhi Tuhan Yesus. Tidak ada perempuan yang meninggalkan atau menghianati Tuhan Yesus, tidak ada perempuan yang mengutuki Dia. Melainkan seringkali mengisahkan tentang perempuan yang melayani Dia dengan apa yang ada pada mereka, membersihkan kaki-Nya dengan air mata mereka, dan meminyaki kepala-Nya dengan minyak narwastu. Dan pada saat laki-laki menuntut supaya Tuhan Yesus dihukum mati, perempuan-perempuan tampil dan mengikuti Dia dengan tangisan.

Simpati putri-putri Yerusalem


Di kota Yerusalem Yesus ditolak. Sejak permulaan sampai akhir hidup-Nya hanya sedikit orang yang menjadi pengikut-pengikut-Nya. Dibandingkan dengan Galilea, Yesus menjadi pujaan hati rakyat Galilea. Tetapi ternyata tidak semua orang di Yerusalem berteriak untuk salibkan Dia. artinya tidak semua orang di Yerusalem memusuhi Tuhan Yesus. Setidaknya ada orang yang pro-Yesus. Setidaknya mereka memiliki rasa prihatin kepada Yesus sehingga mereka tangisi Dia seperti yang dituliskan dalam Luk 23:27 “Sejumlah besar orang mengikuti Dia; diantaranya banyak perempuan yang menangisi dan meratapi Dia”.Bahkan dalam perjalanan menuju golgota, kaum laki-laki dari Galiliea yang mengerumuni Dia dimasa kejayaan-Nya tidak muncul. Wiliam Hendrikson mengomentari hal ini bahwa” perempuan-perempuan disini bukan murid Yesus, tetapi mereka juga tidak memusuhi Yesus.


Memang laki-laki memiliki kekuatan tangan yang sangat luar biasa, lengan yang perkasa, bahu yang kuat untuk memikul salib. Tetapi juga perasaan perempuan yang penuh simpati, kelembutan hati serta kesetiaan yang teguh untuk mencegah membatunya “hati” dunia ini juga tidak bisa disepelekan. Seperti dua aktor yang muncul dalam perjalanan ke Golgota yaitu Simon orang kirene dan putri-putri Yerusalem. Simon orang kirene mau memberi bahunya yang kuat untuk membantu memikul salib itu. Putri-putri Yerusalem yang terus mengikuti dengan rasa prihatin dan perasaan kasihan terhadap Yesus yang diwujudkan dengan tangisan.

perasaan saja tidak cukup

Tetapi sayangnya rasa prihatin, simpati, tangisan dan air mata yang ditunjukan putri-putri Yerusalem ternyata tidak ada gunanya. Lukas 23:28 “Yesus berpaling kepada mereka dan berkata: Hai Putri-putri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu.

Kata-kata Yesus ini sepertinya tersirat rasa simpati terhadap putri-putri Yerusalem. Rasa belas kasihan ini timbul ketika Ia mulai membayangkan penderitaan yang akan dialami perempuan-perempuan serta anak-anak mereka. Selain rasa simpati juga kata-kata-Nya mengandung makna ajakan untuk bertobat. Jikalau Ia berkata tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu, bukan hanya menunjukan penderitaan yang akan menimpa mereka melainkan dosa penduduk Yerusalem itu.

Menanggapi hal ini Mateew Henry berkata “Itu air mata yang tidak berguna yang mereka curahkan bagi-Nya. Banyak orang meratapi Kritus tetapi tidak percaya kepada-Nya. Banyak orang menangisi-Nya tetapi pada dasarnya tidak mengasihi-Nya”. Leon Moris juga berkata “Ia menginginkan pertobatan mereka, bukan simpati mereka”. Jadi sepertinya Perasaan saja tidak cukup. Air mata saja tidak cukup. Tuhan Yesus tidak membutuhkan rasa simpati, prihatin bahkan tangisan dan air mata kita. Sesungguhnya iman dan pertobatan sejati yang diharapkan Tuhan Yesus.

Bagaimana dengan orang-orang Kristen yang kadangkala menangis bahkan sampai histeris dalam ritual-ritual spiritual ? silahkan beri komentar!!

Salatiga 06/04/2020

Soli Deo Gloria

Aryandi Bako

2 thoughts on “Putri-Putri Yerusalem

Leave a comment